Logo

Bukan Hanya Tugas Sekolah, Kolaborasi dengan Orang Tua Jadi Kunci Perkembangan Anak di Bahrusysyifa

Dipublikasikan pada 09 Oct 2026 oleh SD Quba

Bukan Hanya Tugas Sekolah, Kolaborasi dengan Orang Tua Jadi Kunci Perkembangan Anak di Bahrusysyifa
Pendidikan anak tidak berhenti di ruang kelas. Dukungan keluarga, komunikasi yang baik, dan kepercayaan terhadap lembaga pendidikan menjadi bagian penting dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Di Bahrusysyifa, pengalaman wali santri menjadi salah satu gambaran bagaimana kolaborasi tersebut memiliki arti bagi keluarga. Pendidikan anak bukanlah tanggung jawab sekolah semata. Di balik proses belajar yang dijalani setiap hari, ada peran orang tua yang turut menentukan bagaimana anak memperoleh dukungan, membangun kebiasaan, dan mengembangkan kemampuannya. Sekolah menjadi tempat anak mendapatkan pembelajaran dan pendampingan, sedangkan keluarga berperan menjaga kesinambungan proses tersebut di rumah. Ketika keduanya berjalan beriringan, anak memiliki kesempatan untuk tumbuh dalam lingkungan yang lebih konsisten dan mendukung kebutuhannya. Prinsip inilah yang menjadikan kolaborasi antara sekolah dan orang tua penting untuk terus dibangun, termasuk dalam perjalanan pendidikan para santri di Bahrusysyifa. Memahami Anak, Membangun Kerja Sama Setiap anak memiliki karakter, latar belakang, dan kebutuhan belajar yang berbeda. Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga perlu memperhatikan perkembangan karakter, kemandirian, kemampuan berkomunikasi, serta keterampilan menjalani kehidupan sehari-hari. Untuk mendukung proses tersebut, komunikasi antara guru dan orang tua menjadi hal mendasar. Informasi mengenai kebiasaan anak di rumah dapat membantu pendidik memahami kebutuhan anak secara lebih menyeluruh. Sebaliknya, informasi mengenai proses belajar dan perkembangan anak di sekolah dapat menjadi bekal bagi orang tua dalam memberikan pendampingan di rumah. Kolaborasi ini bukan tentang menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada salah satu pihak, melainkan membangun kesepahaman mengenai apa yang dibutuhkan anak dan bagaimana mendukung perkembangannya secara bersama-sama. Ketika sekolah dan keluarga memiliki komunikasi yang terbuka, tantangan yang dihadapi anak dapat dibicarakan dengan lebih baik. Pendampingan pun dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak, bukan sekadar mengikuti pendekatan yang sama untuk semua. Mendengar Pengalaman Wali Santri Bahrusysyifa Pengalaman orang tua menjadi bagian penting untuk memahami perjalanan pendidikan anak. Setiap keluarga memiliki pertimbangan tersendiri ketika memilih lembaga pendidikan, termasuk harapan agar anak memperoleh lingkungan belajar dan pendampingan yang sesuai. Dua wali santri yang menjadi bagian dari cerita ini adalah Dinar Chairunissa, seorang guru sekolah luar biasa (SLB) sekaligus orang tua dari Arshaka Gibran Kiano F, serta Rahma Shafa Annisa, seorang wiraswasta dan orang tua dari Sakalin Himajar Setiyawan. Latar belakang keduanya menghadirkan sudut pandang keluarga yang patut didengar. Alasan memilih Bahrusysyifa, pengalaman selama mendampingi anak, serta perkembangan yang dirasakan menjadi hal penting untuk memahami bagaimana orang tua terlibat dalam perjalanan pendidikan putra-putri mereka. Salah satu pengalaman tersebut disampaikan oleh Rahma Shafa Annisa dalam perbincangannya bersama Ustadzah Dinda, yang menjadi host dalam sesi wawancara wali santri. Shafa: Kami sebagai Orang Tua Merasa Terbantu Dalam perbincangan tersebut, Ustadzah Dinda menggali pengalaman Shafa selama mempercayakan pendidikan Sakalin Himajar Setiyawan kepada Bahrusysyifa. Ustadzah Dinda (Host): “Kalau dari pengalaman Ibu sendiri selama menyekolahkan Ananda di Bahrusysyifa, bagaimana yang Ibu rasakan? Apakah ada manfaat yang benar-benar dirasakan oleh keluarga?” Rahma Shafa Annisa (Wali Santri): “Alhamdulillah, kami sebagai orang tua merasa sangat terbantu dengan menyekolahkan anak kami di Bahrusysyifa. Kami merasa bahwa pendidikan anak bukan hanya tentang menyekolahkan, tetapi juga bagaimana anak mendapatkan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhannya. Kami bersyukur bisa mempercayakan pendidikan Ananda di Bahrusysyifa.” Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman pendidikan anak juga berkaitan erat dengan perasaan dan keterlibatan keluarga. Bagi orang tua, menemukan lembaga pendidikan yang dipercaya merupakan bagian penting dalam perjalanan mendampingi anak. Namun, kolaborasi yang baik tidak berhenti pada keputusan memilih sekolah. Hubungan tersebut perlu terus dijaga melalui komunikasi, keterbukaan, dan keterlibatan orang tua dalam mengikuti proses pendidikan anak. Dalam sesi wawancara itu, Ustadzah Dinda kemudian menanyakan apakah pengalaman yang dirasakan Shafa juga mendorongnya untuk mengenalkan Bahrusysyifa kepada orang lain. Ustadzah Dinda (Host): “Masyaallah, Alhamdulillah. Berarti manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh Ananda, tetapi juga oleh keluarga, ya, Bu. Bahkan, apakah Ibu pernah merekomendasikan Bahrusysyifa kepada orang tua lainnya?” Rahma Shafa Annisa (Wali Santri): “Iya, tentu. Karena kami sendiri sudah merasakan manfaatnya, kami juga merekomendasikan Bahrusysyifa kepada teman-teman kami. Harapannya, semakin banyak orang tua yang mengenal Bahrusysyifa dan bisa mendapatkan manfaat yang sama dalam mendampingi pendidikan anak-anak mereka.” Ustadzah Dinda (Host): “Masyaallah, terima kasih banyak, Bu Shafa, atas kepercayaan dan ceritanya. Semoga Ananda Sakalin terus berkembang dengan baik, dan semoga kolaborasi antara orang tua dan Bahrusysyifa bisa terus terjalin untuk mendukung proses belajar anak.” Pengalaman Shafa memberikan gambaran tentang bagaimana kepercayaan orang tua dapat tumbuh dari pengalaman yang mereka rasakan sendiri. Kesediaannya merekomendasikan Bahrusysyifa kepada teman-temannya juga menunjukkan pentingnya pengalaman keluarga dalam memperkenalkan lembaga pendidikan kepada masyarakat yang lebih luas. Kolaborasi Tidak Berhenti pada Proses Belajar Pengalaman setiap keluarga tentu berbeda. Karena itu, kerja sama antara sekolah dan orang tua perlu dibangun dengan memperhatikan kebutuhan serta kondisi masing-masing anak. Bentuk kolaborasi tersebut dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti bertukar informasi mengenai perkembangan anak, mendiskusikan tantangan yang muncul, menyepakati tujuan pendampingan, dan mengevaluasi proses belajar secara berkala. Orang tua dapat berbagi informasi tentang kebiasaan dan respons anak di rumah. Sementara itu, pendidik dapat menyampaikan perkembangan yang terlihat selama proses pembelajaran. Informasi dari kedua lingkungan tersebut membantu membangun pemahaman yang lebih utuh mengenai kebutuhan anak. Bagi anak yang memerlukan pendekatan pembelajaran khusus, kesinambungan antara pendampingan di sekolah dan di rumah menjadi semakin penting. Strategi yang dipahami bersama dapat membantu anak menghadapi proses belajar secara lebih terarah, dengan tetap menghormati karakteristik dan kemampuan individualnya. Dengan demikian, kolaborasi bukan sekadar agenda pertemuan atau komunikasi sesekali. Kolaborasi merupakan proses berkelanjutan yang menempatkan kebutuhan dan perkembangan anak sebagai perhatian utama. Menghargai Setiap Proses Perkembangan Anak Keberhasilan pendidikan tidak selalu ditandai oleh perubahan besar dalam waktu singkat. Terkadang, kemajuan terlihat melalui langkah-langkah kecil: anak mulai berani mencoba hal baru, menunjukkan peningkatan kemandirian, berkomunikasi dengan lebih baik, atau mampu melakukan aktivitas yang sebelumnya masih membutuhkan bantuan. Perkembangan semacam ini perlu diperhatikan dan dihargai. Guru dan orang tua dapat saling berbagi pengamatan untuk mengenali kemajuan anak sekaligus menentukan dukungan yang masih diperlukan. Oleh sebab itu, keberhasilan pendidikan tidak semestinya diukur hanya melalui nilai atau pencapaian akademik. Proses belajar, perkembangan karakter, kemandirian, dan kemampuan anak dalam menjalani kesehariannya juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan. Melalui komunikasi yang baik, orang tua dan sekolah dapat saling melengkapi dalam memahami perjalanan tersebut. Setiap pihak memiliki peran berbeda, tetapi keduanya dapat berjalan menuju tujuan yang sama: memberikan dukungan terbaik bagi anak. Menumbuhkan Kepercayaan, Menguatkan Pendidikan Kepercayaan orang tua merupakan bagian penting dari hubungan antara keluarga dan lembaga pendidikan. Kepercayaan tersebut perlu dijaga melalui komunikasi yang terbuka, pendampingan yang sesuai kebutuhan anak, serta komitmen untuk terus memperbaiki proses pendidikan. Pengalaman Shafa yang merasa terbantu dan merekomendasikan Bahrusysyifa kepada teman-temannya menjadi salah satu cerita tentang arti kepercayaan tersebut. Di sisi lain, pengalaman setiap wali santri tetap memiliki keunikan tersendiri dan perlu didengar agar kerja sama antara keluarga dan sekolah dapat terus berkembang. Bagi Bahrusysyifa, membangun hubungan yang baik dengan orang tua merupakan bagian dari upaya mendampingi pendidikan anak secara lebih menyeluruh. Sebab, proses belajar tidak hanya berlangsung ketika anak berada di lingkungan sekolah, tetapi juga berlanjut melalui kebiasaan, perhatian, dan dukungan yang mereka terima dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya, pendidikan adalah perjalanan bersama. Ada guru yang membimbing, ada orang tua yang mendampingi, dan ada anak yang terus bertumbuh melalui prosesnya masing-masing. Ketika sekolah dan orang tua saling percaya, terbuka untuk berkomunikasi, dan berjalan beriringan, pendidikan tidak hanya menjadi kegiatan belajar, tetapi juga ikhtiar bersama untuk mendukung masa depan anak.
Bukan Hanya Tugas Sekolah, Kolaborasi dengan Orang Tua Jadi Kunci Perkembangan Anak di Bahrusysyifa
Jurnalis : Novita Nur Alfiah (SD Quba)