Logo

Bukan Soal Sama, tetapi Soal Kesempatan: Setiap Anak Berhak Belajar Bersama

Dipublikasikan pada 10 Oct 2026 oleh SD Quba

Bukan Soal Sama, tetapi Soal Kesempatan: Setiap Anak Berhak Belajar Bersama
Seminar Interaktif Pendidikan Inklusi bagi Guru-Guru: “Membangun Lingkungan Belajar Inklusif yang Akomodatif dan Progresif” Setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, tanpa terkecuali. Tidak semua anak belajar dengan cara yang sama, tidak semua anak membutuhkan pendampingan yang sama, tetapi setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan berkembang bersama. Semangat inilah yang menjadi salah satu pesan penting dalam Seminar Interaktif Pendidikan Inklusi bagi Guru-Guru yang diselenggarakan pada Sabtu, 10 Oktober 2026, dengan mengusung tema “Membangun Lingkungan Belajar Inklusif yang Akomodatif dan Progresif.” Kegiatan ini menghadirkan Erika Yunia Wardah, M.Pd., selaku founder sekaligus praktisi intervensi anak dari Binar Terpadu, sebagai pemateri. Seminar berlangsung dengan lancar dan memberikan ruang bagi para guru untuk menambah wawasan serta berdiskusi mengenai penerapan pendidikan inklusi di lingkungan sekolah. Pendidikan Inklusi Bukan Sekadar Menerima, tetapi Juga Memahami Pendidikan inklusi bukan hanya tentang memberikan kesempatan kepada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) untuk masuk ke sekolah yang sama dengan anak-anak lainnya. Lebih dari itu, pendidikan inklusi mengajak sekolah dan guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang mampu menerima perbedaan, memahami kebutuhan setiap peserta didik, serta memberikan dukungan yang sesuai. Setiap anak memiliki karakteristik, kemampuan, dan tantangan yang berbeda. Karena itu, pembelajaran tidak seharusnya memaksakan semua anak untuk mengikuti satu cara yang sama. Justru, guru perlu mencari pendekatan yang sesuai agar setiap peserta didik dapat terlibat dalam proses pembelajaran. Sekolah yang inklusif adalah sekolah yang tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk membatasi kesempatan anak. Anak-anak dapat belajar bersama, berinteraksi, saling mengenal, dan tumbuh dalam lingkungan yang menghargai keberagaman tanpa diskriminasi. Memahami Tantrum, Bukan Sekadar Menghentikannya Salah satu hal praktis yang menjadi perhatian dalam pemaparan materi adalah bagaimana menghadapi anak yang mengalami tantrum di sekolah. Pemateri menekankan pentingnya memahami terlebih dahulu apa yang menjadi pemicu tantrum. Guru tidak seharusnya langsung menganggap perilaku tersebut sebagai bentuk kenakalan atau tindakan yang sengaja dilakukan anak untuk mengganggu kegiatan belajar.
Bukan Soal Sama, tetapi Soal Kesempatan: Setiap Anak Berhak Belajar Bersama
Pemicu tantrum bisa beragam, mulai dari kondisi fisik, rasa tidak nyaman, perubahan rutinitas, kesulitan menyampaikan keinginan, hingga faktor makanan atau kebutuhan lainnya. Oleh karena itu, komunikasi dengan orang tua menjadi langkah penting yang dapat dilakukan sebelum anak berangkat ke sekolah. Guru dapat menanyakan kondisi anak kepada orang tua, termasuk makanan yang dikonsumsi, kebiasaan sehari-hari, serta hal-hal yang biasanya membuat anak merasa nyaman atau justru tertekan. Informasi tersebut dapat membantu guru mengantisipasi situasi yang mungkin muncul selama pembelajaran. Ketika tantrum terjadi, guru perlu mengutamakan keselamatan, membantu anak menenangkan diri, serta menghindari respons yang memperburuk keadaan. Setelah anak tenang, guru dapat membantu memenuhi kebutuhan atau memahami keinginan anak dengan cara yang tepat, sesuai situasi dan kebutuhannya. Kuncinya bukan sekadar menghentikan tantrum, melainkan memahami apa yang sedang dialami anak dan membantunya belajar mengelola emosi. Pendekatan ini mengingatkan bahwa perilaku anak perlu dipahami dalam konteks kebutuhannya. Dengan komunikasi yang baik antara guru dan orang tua, penanganan anak di sekolah dapat dilakukan secara lebih terarah dan konsisten. Guru Memiliki Peran Penting dalam Mewujudkan Sekolah Inklusif Penerapan pendidikan inklusi tentu membutuhkan komitmen bersama. Guru tidak hanya berperan menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membangun suasana kelas yang aman, nyaman, dan menghargai perbedaan. Melalui seminar interaktif ini, para guru diajak untuk semakin peka terhadap kebutuhan peserta didik, terbuka terhadap pendekatan pembelajaran yang beragam, serta membangun komunikasi yang baik dengan orang tua dan pihak-pihak terkait. Lingkungan belajar yang inklusif tidak harus langsung sempurna. Perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti mengenali karakter anak, tidak terburu-buru memberikan label negatif, menyesuaikan cara berkomunikasi, dan memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk berpartisipasi. Sebab, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari seberapa cepat anak memahami pelajaran, tetapi juga dari seberapa jauh sekolah mampu mendampingi setiap anak untuk berkembang sesuai potensinya. Barakallahu fiikum✨ Jurnalis : Novita Nur Alfiah