Saat Satu Tangan Kecil Terangkat, Ada Keberanian yang Sedang Tumbuh di SD Quba
Dipublikasikan pada 28 Aug 2026 oleh SD Quba
Lumajang, 29 Agustus 2026 - Seorang anak perlahan mengangkat tangan.
Di antara teman-temannya yang duduk memperhatikan, tangan kecil itu akhirnya terangkat lebih tinggi. Tak lama kemudian, ia maju ke depan untuk menjawab pertanyaan.
Mungkin terlihat sederhana.
Namun bagi seorang anak, berani mengangkat tangan, berdiri di depan teman-temannya, lalu menyampaikan jawaban adalah sebuah langkah besar. Apalagi jika ia tahu bahwa tidak ada yang akan menertawakan ketika jawabannya keliru.
Di situlah suasana Momen Literasi Cinta Nabi di SD Quba terasa berbeda.
Bersama Kak Sari dari Yatim Mandiri Lumajang, anak-anak tidak hanya diajak mendengarkan cerita tentang Nabi Muhammad SAW. Mereka juga diberi kesempatan untuk bertanya, menjawab, berinteraksi, dan mencoba tampil di depan.
Ada yang langsung percaya diri. Ada yang masih malu-malu. Ada pula yang memilih diam sambil memperhatikan teman-temannya.
Tidak apa-apa.
Sebab dalam ruang belajar seperti ini, keberanian tidak harus muncul sekaligus.
Kadang ia dimulai dari satu tangan yang terangkat.
Ketika Anak Tidak Takut Salah
Belajar bagi anak bukan hanya soal mendapatkan jawaban yang benar.
Ada proses untuk berani bertanya, mengutarakan pendapat, mencoba sesuatu yang baru, bahkan belajar menerima ketika jawabannya belum tepat.
Hal itulah yang terlihat dalam kegiatan bersama Kak Sari.
Suasana dibuat interaktif dan dekat dengan dunia anak. Cerita tentang Nabi Muhammad SAW disampaikan melalui pesan-pesan sederhana yang bisa mereka temukan dalam kehidupan sehari-hari.
Anak-anak diajak memahami bahwa mencintai Nabi bukan hanya dengan mengetahui kisah kehidupan Rasulullah, tetapi juga dengan berusaha meneladani akhlaknya.
Berbuat baik kepada teman.
Mau berbagi.
Menolong ketika ada yang membutuhkan.
Berkata dengan santun.
Dan berani melakukan kebaikan meskipun sederhana.
Pesan-pesan itu kemudian tidak berhenti sebagai cerita. Anak-anak diajak merespons dan terlibat di dalamnya.
Dari sana, perlahan muncul keberanian-keberanian kecil.
Ada Ruang Aman di Balik Keberanian Anak
Menurut Kak Sari, keberanian anak tidak selalu muncul begitu saja.
Ada lingkungan yang ikut menentukan apakah seorang anak berani mencoba atau justru memilih diam.
Ketika anak merasa aman, mereka akan lebih leluasa menunjukkan rasa ingin tahu. Mereka tidak terlalu takut jika jawabannya salah. Mereka juga merasa memiliki kesempatan untuk mencoba lagi.
Karena itu, menurutnya, mendampingi anak bukan hanya soal meminta mereka untuk percaya diri.
Orang dewasa juga perlu menyediakan ruang yang membuat mereka merasa aman untuk belajar.
Sebab anak yang hari ini masih malu berbicara belum tentu selamanya menjadi anak yang pendiam.
Bisa jadi ia hanya membutuhkan waktu.
Bisa jadi ia membutuhkan seseorang yang mengatakan bahwa tidak apa-apa mencoba.
Atau mungkin, ia hanya perlu tahu bahwa ketika melakukan kesalahan, ia tidak akan dipermalukan.
Dari ruang aman seperti itulah rasa percaya diri perlahan tumbuh.
Cinta Nabi yang Dekat dengan Kehidupan Anak
Mengenalkan Nabi Muhammad SAW kepada anak-anak juga tidak harus selalu melalui penjelasan yang panjang.
Nilai keteladanan justru bisa dikenalkan lewat hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan mereka.
Bagaimana berbicara kepada teman.
Bagaimana memperlakukan orang lain.
Bagaimana membantu tanpa menunggu diminta.
Bagaimana berbagi sesuatu yang dimiliki.
Dan bagaimana tetap memilih berbuat baik meskipun tidak ada yang melihat.
Kisah Nabi kemudian menjadi jembatan untuk mengenalkan nilai-nilai tersebut.
Anak-anak bukan hanya diajak mengetahui siapa Nabi Muhammad SAW, tetapi juga perlahan memahami bahwa mencintai Nabi berarti berusaha membawa teladan beliau ke dalam perilaku sehari-hari.
Dengan cara yang sederhana, pesan itu menjadi lebih dekat dengan dunia mereka.
Dari Satu Tangan yang Terangkat
Pada akhirnya, Momen Literasi Cinta Nabi di SD Quba bukan hanya tentang siapa yang paling berani maju ke depan.
Bukan pula tentang siapa yang mampu menjawab semua pertanyaan dengan benar.
Yang lebih penting adalah proses di baliknya.
Ada anak yang awalnya hanya diam, kemudian mencoba mengangkat tangan.
Ada yang semula ragu, lalu memberanikan diri berbicara.
Ada yang mungkin jawabannya belum tepat, tetapi tetap mendapatkan pengalaman bahwa mencoba bukanlah sesuatu yang memalukan.
Di situlah literasi menjadi lebih dari sekadar membaca.
Anak belajar memahami cerita, menangkap pesan, menghubungkannya dengan kehidupan, lalu mencoba mempraktikkannya.
Dan mungkin, beberapa tahun dari sekarang, anak-anak itu tidak lagi mengingat seluruh pertanyaan yang pernah diberikan hari itu.
Namun mereka bisa saja mengingat satu hal yang jauh lebih penting:
Bahwa pernah ada sebuah ruang di mana mereka diperbolehkan untuk mencoba.
Boleh salah.
Boleh merasa gugup.
Dan tetap diberi kesempatan untuk maju lagi.
Sebab terkadang, keberanian besar dalam diri seorang anak memang bermula dari hal yang sangat kecil.
Satu tangan yang terangkat.
Dari sana, tumbuh rasa percaya diri.
Dari sana pula, semoga tumbuh kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, bukan hanya dalam cerita yang mereka dengarkan, tetapi dalam akhlak yang mereka bawa setiap hari.
Jurnalis: Novita Nur Alfiah
BERITA TERKAIT
Dari Memimpin Diri Menuju Pemimpin Masa Depan, LDK Dewan Santri SD Qub...
Lumajang, 18 September 2026 - LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan) Dewan Santri SD Q...
*Langkah Kecil, Hafalan Istimewa: Ujian Persuratan An-Naba’ Santri KB...
KB TAAM QUBA kembali melaksanakan kegiatan pembelajaran Al-Qur’an melalui Ujian...
Serunya Belajar di Luar Kelas, Santri SD Quba Jelajahi Akuakultur hing...
Lumajang, 16 September 2026 — Belajar tidak selalu harus berlangsung di dalam ke...
One Day One Qur’an Moment, Membangun Kedekatan Keluarga melalui Al-Qur...
Lumajang - TPA TAAM Quba terus berupaya menghadirkan program pembelajaran yang t...
"Belajar Sholat Sejak Dini, Menumbuhkan Cinta Ibadah pada Anak"
KB TAAM QUBA kembali menghadirkan kegiatan pembelajaran keagamaan yang menyenang...